KaryakuResensimuCerita SeruProfilBuku TamuKontak





Hubungan Intim Di luar Nikah
11 Mei 2006 09:35

» beri tahu teman

Bunga (nama samaran) adalah seorang gadis baik-baik. Patuh pada orang tua dan ketika orang tuanya meninggal dia patuh pada kakak-kakaknya. Dia pun cinta sekaligus pelindung adik laki-laki satu-satunya. Taat beragama dan sering memberikan nasihat kepada orang lain yang coba-coba menceng dari jalan yang benar menurut agama. Dalam kesehariannya dia selalu jujur, baik hati, dan tidak suka menyakiti hati orang.

Kelemahan Bunga menurut pengamatan pribadi saya adalah dia plin-plan. Sikapnya terhadap banyak hal tidak jelas. O ya...sikapnya terhadap hubungan seks sebelum menikah juga ngambang! Good guess, guys!

          Beberapa tahun terakhir ini Bunga menjalin hubungan dengan seorang pria yang statusnya juga nggak jelas. Mau dibilang duda, ayah 2 anak ini belum resmi bercerai. Konon menikahnya juga tidak disahkan catatan sipil, tapi setidaknya orang sedunia dia tahu kalau dia suaminya si anu dan ayah dari anu-anu.

          Sebagai orang yang berdiri di luar lingkaran kehidupan Bunga, saya dan bojoku tentu saja adalah penonton kritis. Dari mula kami berusaha membuka mata Bunga berdasarkan persepsi dan keyakinan kami bahwa si cowok (mari kita namakan saja Kum-bang) sebenarnya tidak mencintainya. Hanya kami pun sungkan mengutarakan hal yang paling esensial bahwa sebenarnya Kum-bang yang sudah menjadi penganguran hampir sewindu ini hanya mau uang dan tubuhnya.

          Enggak jarang pula Bunga membenarkan perkiraan kami. Dia juga sering curhat setiap kali Kum-bang ingkar dan nyangkal. Hal-hal remeh seperti sudah janji mau mengantar kemana gitu, tapi gak nongol-nongol hingga matahari terbenam atau coretan di atas kalendar bertambah satu. Ketika nongol lagi penjelasannya seenak perut; ketiduranlah. Habis sakit kepalalah. Tapi doikan bisa nelpon, iya nggak sih? Bunga sendiri ngeluh gitu.

          Tapi cerita terus bergulir. Beberapa alinia abis lagi untuk menuliskan kalimat yang kurang lebih sama. Contoh niii yee, beberapa hari yang lalu Bunga menelepon kami dan minta maaf. Sebelumnya Bunga ngasih tahu kalau kakaknya datang dengan membawa banyak oleh-oleh dan Bunga pengen berbagi dengan kami. Karena itu Bunga minta Kum-bang mengantarnya ke tempat kami, namun ya itu lagi...Kum-bang nggak nongol-nongol! Jadi Bunga nggak bisa mengantarkan makanan yang ingin dibagikannya dengan kami.

          Enggak terlalu sulit diduga bukan kalau selama ini Bunga yang sudah berusia di atas 30 tahun itu tidak berhasil menarik seucap kepastian dari mulut Kum-bang, maunya kemana hubungan mereka itu??? Bunga pun terjerembab di atas dilema yang dibuatnya sendiri. Mau mendesak Kum-bang menikahinya dia merasa tidak tahu harus mulai dari mana. Setiap kali Bunga menanyakan status perceraian Kum-bang dengan istri pertamanya, Kum-bang dengan lihai bergelit. Rasanya pembicaraan topik ini tidak pernah berkembang. Mau menikah di bawah tangan dengan Kum-bang, Bunga merasa nggak pantas secara agama dan risih juga ama saudara-saudaranya. Lagian Bunga juga nggak mau menerima kedua anak Kum-bang.

          Dan...beberapa hari yang lalu (menurut pengakuan Bunga dewek) dia baru saja kehilangan keperawanannya. Dia mengaku nggak bisa menolak ketika Kum-bang hinggap di atas tubuhnya yang agak gamang karena habis meneguk cukup banyak minuman beralkohol. Menurut saya kata tidak bisa menolak itu amat sangat klise dan klasik. Entahlah, apakah Bunga menikmati hubungan intim itu atau nggak? Rasanya sih Bunga merasa bersalah, telah melanggar satu dari 10 hukum Tuhan: Jangan berzinah. Dia tahu pasti kalau hubungan seks di luar pernikahan suci adalah zinah.

          Kum-bang setelah mengisap madu (akhirnya....setelah mencoba berkali-kali. Merengek berkali-kali, dan ngambek berkali-kali, serta berkali-kali mengatakan aku pengen bercinta dengan kamu, Bunga. Karena aku sangat mencintaimu) berkata: “Aku akan bertanggung jawab!”

          Wah wah wah! Bukannya menghina kalau saya ragu bagaimana seorang laki-laki tanpa pekerjaan tetap dan masih pula menggantung status—duda nggak, menikah nggak—dapat mengucapkan kata-kata seperti itu?

          Nah, sekarang mari kita kembali ke topik, ngeseks sebelum nikah atau di luar pernikahan. Mengenakan kaca mata agama dan adat ketimuran, maka tanggapan yang pascok adalah: Haram. Pantang. Dosa.

          Lepasin kaca mata agama dan adat ketimuran, dan kita biarkan kontroversi berkembang, maka sebenarnya melakukan hubungan seks di luar pernikahan sah mungkin nggak bisa dihakimi SALAH atau BENAR. Menurut saya harus melihat siskondomnya. Yakni situasi, kondisi dan domestik juga kondom—mau pakai atau nggak, iya kan?

          Bagi sebagian orang yang mana para pembaca yang budiman mungkin akan menggolongkannya sebagai kelompok amoral, seks adalah kebutuhan biologis. Sama seperti makan dan minum. Bahkan ada yang menyakini seks membuat badan jadi sehat, jiwa jadi awet muda. Seks adalah kenikmatan yang sudah diakui oleh hampir seisi dunia hampir sepanjang masa peradaban manusia.

          Dunia barat yang sering kita lihat di layar televisi kita, sering banget menampilkan adegan dua manusia yang baru bertemu beberapa jam menggebu-gebu melampiaskan birahi. Setelah itu? Kedua tokoh yang biasanya juga bukan orang biasa-biasa saja, melainkan bisa berupa pengacara terkenal, politisi, polisi hingga pendeta dan perempuan bersuami yang ngeseks dengan laki-laki bukan suaminya, pengusaha dan lain-lain setelah mereda nafsu mereka meneruskan peran masing-masing. Hampir nggak berbeda dengan orang yang habis menyantap semangkok soto atau habis dari spa aromaterapi, habis dipijet yang enak, habis bersauna. Tidak perlu harus ada beban moral atau perasaan berdosa.

          So tanya ken apa pada Bunga! Mengapa dalam kasus dia ngeseks dengan Kum-bang mesti menimbulkan gundah?

          Menurut saya kegundahan terjadi karena ketidakdewasaan sikap dan kebebasan menentukan nasib sendiri. Yang pertama erat berhubungan dengan situasi di mana hubungan tersebut tidak didukung sikap mental yang dewasa. Kondisi di mana Kum-bang tidak dalam keadaan siap bertanggung jawab jika seandainya Bunga hamil akibat hubungan intim ini. Domestik di mana Bunga hidup yang akan mencercah dan menyalahkannya sebagai wanita jalang, pendosa, dan entah apa lagi.

          Lain sekali dengan situasi, kondisi dan domestik para tokoh fiksi di atas layar perak kayak ilustrasi di atas. Para tokoh fiksi yang merepresentasikan budaya barat, secara dewasa dapat mempertanggungjawabkan hubungan tersebut. Dan lebih penting lagi secara domestik tidak akan ada yang ngusili kalau ada perempuan tidak terikat pernikahan resmi tapi hamil. Keputusannya setelah itu apakah dia akan membesarkan anaknya sendiri sebagai single parent, atau bersama-sama ayah dari anaknya, atau menikah ketika hamil tua, atau menggugurkan sepenuhnya tergantung kepada individu itu sendiri.

          Pandangan saya pribadi adalah bahwa ngeseks itu enak, tapi sebagai manusia dengan adat ketimuran,  ngeseks yang enak itu sebaiknya dinikmati kalau benar-benar dapat mempertanggungjawabkannya ekses-eksesnya. Tentu saja harus atas “kenikmatan” berdua, indah dan mengesankan. Foreplay dan after play yang mesra juga jangan dilupain. Jangan diiringi air mata berderai atau gigitan bibir dong, nantinya namanya kesiksaan bukan lagi kenikmatan.

Kenikmatan ini hanya dapat dirasakan oleh pelaku yang benar-benar dewasa. Kalau boleh diberi contoh adalah seperti pembalap F1. Mustahil dia dapat menikmati enaknya melaju 300 Km perjam kalau dia tidak ahli menyetir mobil balap. Mustahil akan enak kalau dia tidak melakukan persiapan matang. Mustahil dia tidak akan menabrak penjaga garis start. Mustahil dia tidak akan bikin penonton marah karena ketidakmampuannya.

          Kalau nggak memenuhi syarat mendingan nggak usah deh melakukan hubungan pranikah. Ingat hubungan itu akan menghadirkan minimal seorang manusia baru ke dunia yang akan menuntut diperlakukan selayaknya manusia: diberi makan, dilindungi dari segala aspek yang dapat merusak, diberi pelajaran, disiapkan untuk menjadi manusia tangguh. Ingat, di mana Anda hidup secara domestik—hargai adat-istiadat dan patuhi komitmen agama Anda ya ya ya!

          Perlu rasanya saya jelaskan mengapa tadi saya bilang ketidaksanggupan Bunga menolak Kum-bang itu klise dan klasik. Hubungan intim di tempat kita kan nggak kayak di film barat selalu. Pemanasannya lama dan bertahap kan? Mula-mula ciuman pipi, lalu ciuman bibir kering, agak basah dan semakin belepotan sambil berbunyi berisik cup-cup (makan disebut kecupan) dan plok-plok (maka disebut ciplok). Tangan merayap kemana-mana. Setelah itu sedikit “paksaan” terjadilah hubungan itu (kasus Bunga).

          Mengapa tahapan-tahapan tersebut dimungkinkan? Karena klisenya sikap Bunga. Takut ditinggal atau nggak dicintai lagi kalau menolak. Tidak jarang terjadi malah karena takut menolak keinginan diri sendiri. Sebenarnya cara jitu untuk menolak diri sendiri dan keinginan pihak laki-laki, pihak perempuan nggak boleh sekali-kali berduaan tanpa interupsi. Dalam kasus Bunga, Kum-bang malah diijinkan nginap di kamarnya. So tanya ken apa Bunga harus menyesal setelah hubungan terjadi?

          Menikah secara resmi baru berhubungan bukan cara usang kuno, tapi cara lama dengan nilai luhur yang nggak lapuk dijilatin zaman. Setidaknya merupakan cara aman untuk menjadi penghuni planet bumi ini.


» beri tahu teman




Depan | Karyaku | Resensimu | Cerita Seru | Profil | Buku Tamu | Kontak

Copyright © 2004-2005 Ernest J. K. Wen
Dilarang mengutip atau menyalin sebagian atau seluruh isi website ini dalam bentuk atau cara apa pun tanpa izin dari penulis.
Anda dapat menghubungi penulis di ernest@ejkok.com. Anda bebas untuk melakukan link ke website ini.
Masalah berkenaan dengan website ini, silakan hubungi Webmaster.
This website is powered by harianto.com